Kamis, 18 Maret 2010

Sebuah cerita di Los Felidas

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di America

Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota. Ada sebuah kisah Natal

yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah

seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil.



Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa
lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh

suaminya dari kampung halamannya.


Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu

berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan

seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu

dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.

Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam

keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan

akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi

mereka sedikit tempat untuk berteduh. Saat itu angin Desember bertiup kencang,

membawa titik-titik air yang dingin.



Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus

meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau

tidak malam nanti kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia

tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika.



Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu

kedatangan suaminya, dan bila malam tidur diemperan toko itu. Pada hari ketiga,

ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi

mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis disana selama 6 bulan berikutnya.

Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih

baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah di mana ia

harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat

cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu

dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia

berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun

yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu

tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam

beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil

yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin dirambut kita". Gadis itu

mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur

kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan

membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya, di sebelahnya ia meletakkan

sepotong roti, kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu,

dimana ia bekerja sebagai pemotong kulit. Begitulah kehidupan mereka selama

beberapa hari, hingga dikantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa

sebuah kamar berpintu di daerah kumuh.



Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar

uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang

moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya

sejauh 300 kilometer ke pusat kota.

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya,

menyisir rambutnya dan membawanya kesebuah rumah mewah dipusat kota. Disitu

gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya,

yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama

18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka

memanjakannya dengan amat sangat.



Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar

kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan

bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan

mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi

menyusul hal lainnya, dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.



Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang

amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif digereja, dan yang sedang

menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap

pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang

bernama Geraldo. Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan

Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate

sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di

kota itu.



Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah

kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang

ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya, ia

melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri.

Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri

tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya

tetap kusam.

Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia

mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga

kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak

kayu mahoni.



Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang

pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara

benda-benda mewah itu sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting

melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum

memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat

bertanya, dimana anting yang satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya

itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia

mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya

berlinang. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri.

Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum

penah dilihatnya sama sekali.



Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini

mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya

berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan

darah ayahnya. Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad

terpendam, berkilat dibenaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya

dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa

dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan

rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan

mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati

bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya

yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan

mungkin ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?".



Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto

hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh

jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat

yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari

seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia

membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti

orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang

seorang wanita. Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari

usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu dinegeri

dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya

pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka

terus menerus meningkatkan pencarian mereka.



Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar

untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah

almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama

seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan

sedang menantinya sekarang.



Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-

angguk penuh pengertian. Saat itu waktu sudah memasuki masa Natal. Seluruh

negeri bersiap untuk menyambut hari kelahiran Kristus, dan bahkan untuk kasus

Serrafona-pun, orang tidak lagi menaruh perhatian utama. Melihat pohon-pohon

terang mulai menyala disana-sini, mendengar lagu-lagu Natal mulai dimainkan

ditempat-tempat umum, Serrafona menjadi amat sedih. Pagi, siang dan sore ia

berdoa: "Tuhan, saya bukannya tidak berniat merayakan hari lahirmu, tapi ijinkan

saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: "temukan saya dengan ibu

saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa

ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya.

Tanpa membuang waktu, mereka terbang ketempat itu, sebuah rumah kumuh di

daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka.



Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini

terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita

itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan,

sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia

masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu

dan kemudian menculiknya.



Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan

malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik. Mereka

tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk

mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian

kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup

sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima

telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau

memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya Hanya

cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi."



Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh

dan banyak angin. Rumah-rumah disepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu,

dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil

berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan

berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan

yang semakin menunjukkan kemiskinan.



Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas,

Serrafonna, mama menunggumu, sayang". Ia mulai berdoa: "Tuhan beri saya

setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja". Ketika mobil

berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang

amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan

yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati

celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia

mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu lama, cukup beri kami seminggu

untuk saling memanjakan". Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya

menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama

Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari

sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing

sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-

tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak

bergerak-gerak.



Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di

belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain.

Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu.

"Belum bergerak dari tadi." Lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi

ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan

sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat!

Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu." Serrafona memandang

tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ.



Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui

bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya

mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita

yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat. "Tuhan", ia meminta

dengan seluruh jiwa raganya, "beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan

mama mendekap saya dan memberinya tahu bahwa selama 25 tahun ini hidup saya

amat bahagia. Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya". Ia berlutut dan meraih

kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan

memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente,

ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang

tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. "Mama....", ia mendengar

suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan

tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia

tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang

sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia

berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya. "Mama,

saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun

yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur,

ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama..."

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada

Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam

saja....." Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang

yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama

seperempat abad tidak berakhir sia-sia........................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar